Como 1907 Menembus Liga Champions, Proyek Indonesia dan Fabregas Mencuri Perhatian
Kilas Sepak Bola – Perjalanan Como menuju Liga Champions bukan sekadar kisah klub kecil yang menikmati satu musim mengejutkan. Tim asal Italia itu membangun fondasi secara bertahap hingga akhirnya tampil di kompetisi elite Eropa. Momentum besar datang ketika Como menjalani debut fase liga Liga Champions 2026/2027 melawan RB Leipzig di Stadion Giuseppe Sinigaglia. Alih-alih terlihat gugup, mereka justru menang meyakinkan 4-1. Namun, cerita paling menyentuh muncul sebelum pertandingan. Presiden Como, Mirwan Suwarso, bersama beberapa petinggi klub memberikan kursi mereka kepada suporter lanjut usia yang telah mengikuti klub melewati berbagai divisi. Gestur tersebut menggambarkan arah proyek Como. Mereka mengejar prestasi besar, tetapi tetap ingin menjaga hubungan emosional dengan masyarakat yang bertahan bersama klub ketika sorotan dunia belum tertuju ke tepi Danau Como.
Kekuatan Pemilik Indonesia Menjadi Fondasi Kebangkitan Como
Transformasi Como mendapat fondasi finansial kuat setelah keluarga Hartono mengambil alih klub melalui SENT Entertainment pada 2019. Dukungan tersebut memberi Como kemampuan untuk memperkuat skuad sekaligus membenahi Stadion Giuseppe Sinigaglia agar memenuhi standar UEFA. Dalam waktu kurang dari lima tahun sejak akuisisi, klub berhasil naik ke Serie A. Hanya dua musim kemudian, Como mengamankan tiket menuju Liga Champions. Meski investasi memainkan peran besar, proyek ini tidak berhenti pada kebiasaan membeli pemain mahal. Mirwan Suwarso, yang mewakili kepemilikan sekaligus menjalankan klub, membawa pendekatan bisnis yang dirancang untuk bertahan dalam jangka panjang. Karena itu, uang menjadi alat untuk membangun struktur, bukan satu-satunya identitas. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana investasi yang dipadukan dengan perencanaan dapat mengubah klub yang sebelumnya jauh dari sorotan menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sepak bola Eropa.
Baca Juga : Juventus Belum Konsisten, Lele Adani: Masih Jauh dari Tim Hebat
Model Disney Membawa Como Melampaui Bisnis Sepak Bola
Como menghadapi tantangan yang tidak sederhana karena stadion mereka hanya memiliki kapasitas sekitar 12.000 penonton. Namun, lokasi klub justru menawarkan peluang yang jarang dimiliki tim lain. Danau Como merupakan destinasi wisata terkenal yang berada kurang dari satu jam perjalanan dari Milan dan menarik pengunjung internasional. Suwarso kemudian menggambarkan strategi bisnis klub dengan metafora “Disney”. Como ingin mengembangkan pendapatan dari hospitality, merchandise, retail, fashion, dan produk gaya hidup sehingga klub tidak bergantung sepenuhnya pada hak siar. Strategi itu juga memanfaatkan musim panas, ketika wisata Danau Como sedang ramai sementara kompetisi sepak bola Italia berhenti. Dengan pendekatan tersebut, identitas klub berkembang menjadi pengalaman yang menghubungkan olahraga, pariwisata, dan gaya hidup. Inilah salah satu alasan Como menuju Liga Champions terasa berbeda dibandingkan cerita kebangkitan klub yang hanya mengandalkan investasi pemain.
Cesc Fabregas Membangun Identitas Sepak Bola yang Jelas
Di lapangan, Cesc Fabregas menjadi tokoh penting yang mengubah ambisi menjadi permainan nyata. Mantan gelandang Arsenal, Barcelona, dan Chelsea itu bergabung dengan Como sebagai pemain pada musim 2022/2023 sebelum mengakhiri karier profesionalnya. Setelah pensiun, ia menangani tim muda lalu mendapatkan kesempatan memimpin tim utama. Fabregas membantu Como promosi ke Serie A, kemudian membawa klub finis di posisi ke-10 pada musim penuh pertamanya sebagai pelatih. Musim berikutnya menghasilkan lompatan besar ketika Como finis keempat dan meraih tiket Liga Champions. Keberhasilan tersebut membuat klub lain tertarik kepadanya, tetapi Fabregas memilih melanjutkan proyek bersama Suwarso. Bagi Como, kontribusinya lebih luas daripada hasil pertandingan. Sang pelatih membangun metode, karakter permainan, serta struktur yang diharapkan tetap bertahan bahkan ketika suatu hari dirinya tidak lagi berada di pinggir lapangan.
Baca Juga :Debut Emil Audero di Rayo Vallecano, 7 Penyelamatan Lawan Madrid
Nico Paz Menunjukkan Keberanian Como Menjaga Talenta Terbaik
Strategi Como terlihat jelas melalui perjalanan Nico Paz. Klub mendatangkannya dari Real Madrid pada 2024 dengan nilai sekitar 6 juta dolar AS, meski Madrid tetap memegang beberapa hak atas masa depan pemain Argentina tersebut. Ketika Tottenham menawarkan sekitar 70 juta euro pada musim panas 2025, Como dan Real Madrid memilih menolaknya. Paz kemudian memutuskan bertahan karena ingin melanjutkan perkembangannya sekaligus merasakan Liga Champions bersama Como. Klub akhirnya mempermanenkannya dengan nilai sekitar 60 juta euro, sementara Madrid mempertahankan opsi pembelian kembali senilai 80 juta euro untuk musim panas 2027. Keputusan tersebut menunjukkan perubahan posisi Como. Mereka tidak lagi sekadar menjadi tempat singgah bagi pemain berbakat. Klub mulai memiliki daya tarik olahraga yang cukup kuat untuk mempertahankan talenta ketika tim-tim besar Eropa datang membawa tawaran menggiurkan.
Investasi Pemain Menopang Ambisi yang Semakin Tinggi
Keberanian mempertahankan Paz hanyalah satu bagian dari strategi transfer Como. Dalam beberapa tahun terakhir, klub mengeluarkan investasi besar untuk mendatangkan talenta dari berbagai negara. Salah satu rekrutan penting adalah penyerang Italia Moise Kean, yang didatangkan dari Fiorentina dengan nilai sekitar 45 juta dolar AS. Ia diproyeksikan menjadi salah satu andalan lini depan dalam persaingan Serie A dan Liga Champions. Meski demikian, kekuatan proyek Como tidak dapat diukur hanya melalui besarnya pengeluaran transfer. Klub menggabungkan perekrutan pemain dengan model bisnis berbeda, daya tarik stadion, pengembangan merek, dan filosofi sepak bola yang jelas. Pendekatan itu membuat setiap investasi memiliki tempat dalam rencana yang lebih luas. Como ingin membangun skuad kompetitif tanpa kehilangan identitas. Tantangan berikutnya adalah menjaga keseimbangan tersebut ketika ekspektasi meningkat dan lawan mulai memandang mereka sebagai ancaman serius.
Liga Champions Menjadi Awal Babak Baru Proyek Como
Keberhasilan mencapai Liga Champions memberikan validasi penting terhadap proyek yang dibangun selama beberapa tahun. Dukungan finansial keluarga Hartono memberikan fondasi, Mirwan Suwarso membawa visi bisnis, sedangkan Fabregas membentuk identitas sepak bola di lapangan. Ketiga unsur tersebut membuat Como berkembang dengan arah yang relatif jelas. Sumber yang menjadi dasar artikel ini menekankan bahwa proyek klub dibangun untuk jangka panjang, bukan semata mengejar keberhasilan sesaat. Tantangan terbesar justru dimulai sekarang. Liga Champions membawa tekanan, ekspektasi, serta tuntutan mempertahankan pemain terbaik. Pada saat bersamaan, Como harus menjaga hubungan dengan komunitas yang menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. Kemenangan besar pada debut Eropa memberikan awal yang indah, tetapi keberhasilan sesungguhnya akan terlihat dari kemampuan klub mempertahankan model tersebut. Dari tepi danau yang tenang, Como kini mencoba membuktikan bahwa mimpi besar dapat tumbuh melalui perencanaan yang sabar.
