Rencana Investasi Infantino Jadi Bumerang, Peta Dukungan Presiden FIFA Berubah
Kilas Sepak Bola – Peta menuju pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027 mulai berubah setelah Gianni Infantino menghadapi gelombang penolakan yang semakin terbuka. Sebelumnya, pria yang memimpin FIFA sejak 2016 itu terlihat berada di jalur relatif mulus untuk mempertahankan jabatannya hingga 2031. Namun, rencana investasi yang berkaitan dengan hak komersial Piala Dunia dan sejumlah turnamen FIFA justru menjadi titik balik. Gagasan tersebut memicu pertanyaan tentang arah pengelolaan aset sepak bola dunia serta keterlibatan modal swasta. Akibatnya, beberapa federasi yang sebelumnya berada di belakang Infantino mulai mengambil jarak. Situasi ini membuat pemilihan mendatang terasa berbeda dibanding periode sebelumnya. Sebanyak 211 federasi anggota memiliki hak menentukan pemimpin FIFA berikutnya. Oleh karena itu, setiap perubahan dukungan kini memiliki arti besar, terlebih ketika lebih dari sepertiga anggota belum memperlihatkan pilihan secara terbuka.
Rencana Investasi Piala Dunia Memicu Gelombang Penolakan
Persoalan bermula ketika pembicaraan mengenai kemungkinan pembentukan perusahaan yang mengelola sebagian kepentingan komersial turnamen FIFA mencuat ke publik. Nama investor asal New York, Josh Kushner, ikut muncul dalam laporan mengenai rencana tersebut. Padahal, beberapa hari sebelumnya, Infantino masih menikmati dukungan luas setelah berakhirnya Piala Dunia 2026. Reaksi kemudian bergerak cepat. Sejumlah pihak di lingkungan sepak bola Eropa mempertanyakan dampak masuknya investor swasta terhadap kendali FIFA atas kompetisi bernilai besar seperti Piala Dunia. Tekanan yang berkembang akhirnya membuat rencana tersebut dibatalkan hanya beberapa hari setelah menjadi perhatian publik. Meski demikian, pembatalan tidak otomatis meredakan ketegangan. Sebaliknya, polemik itu membuka perdebatan lebih luas mengenai transparansi, tata kelola, dan arah komersialisasi FIFA. Dari sinilah dukungan terhadap Infantino mulai mengalami pergeseran yang berpotensi menentukan jalannya pemilihan pada 18 Maret 2027 di Maroko.
Baca Juga : Prediksi Indonesia vs Thailand, Garuda Memburu Gelar di SUGBK
Eropa Menjadi Poros Perlawanan Terbesar terhadap Infantino
UEFA kini muncul sebagai salah satu kekuatan utama yang menentang kelanjutan kepemimpinan Infantino. Sejumlah federasi Eropa bahkan telah menarik dukungan secara terbuka setelah kontroversi rencana investasi tersebut berkembang. Tekanan itu semakin penting karena UEFA tidak bergerak sendirian. Pimpinan CONCACAF dan Konfederasi Sepak Bola Asia juga dikabarkan ingin menghadirkan setidaknya satu kandidat alternatif dalam pemilihan mendatang. Namun, hingga kini belum ada nama penantang yang benar-benar muncul sebagai figur pemersatu. Kondisi tersebut menjadi keuntungan tersendiri bagi Infantino karena suara oposisi berpotensi terpecah apabila lebih dari satu kandidat maju. Di sisi lain, Eropa juga tidak sepenuhnya satu suara. Azerbaijan, misalnya, masih berada di barisan pendukung petahana. Karena itu, pertarungan sebenarnya bukan hanya tentang siapa yang menolak Infantino. Tantangan terbesar kelompok oposisi adalah mengubah ketidakpuasan menjadi koalisi yang solid dengan kandidat yang mampu memperoleh dukungan lintas konfederasi.
Afrika dan Amerika Selatan Menjadi Benteng Penting Petahana
Ketika dukungan dari sebagian Eropa melemah, Afrika dan Amerika Selatan justru menjadi wilayah strategis bagi Infantino. Komite eksekutif CAF telah menyatakan dukungan terhadap petahana, meskipun sikap masing-masing federasi Afrika masih perlu diperhatikan hingga hari pemungutan suara. Sementara itu, sepuluh anggota CONMEBOL disebut telah memberikan dukungan kepada Infantino. Hubungan tersebut juga berkaitan dengan perdebatan mengenai format Piala Dunia 2030. Negara-negara Amerika Selatan mendorong gagasan perluasan turnamen menjadi 64 tim, yang berpotensi menambah slot sekaligus jumlah pertandingan di kawasan mereka. Sebaliknya, UEFA menentang ide tersebut. Perbedaan kepentingan ini menunjukkan bahwa pemilihan Presiden FIFA tidak hanya berbicara mengenai sosok pemimpin. Setiap federasi membawa agenda sepak bola, kepentingan kompetisi, dan kebutuhan finansial masing-masing. Karena itu, kemampuan Infantino mempertahankan dukungan dari kawasan dengan jumlah suara besar dapat menjadi penyeimbang ketika tekanan politik dari Eropa terus meningkat.
Baca Juga : Debut Kandang Zidane Tertahan Italia, Donnarumma Jadi Tembok Terakhir
Asia, CONCACAF, dan Oseania Memperlihatkan Peta yang Terpecah
Pertarungan menjadi semakin menarik karena beberapa konfederasi tidak menunjukkan pilihan yang seragam. Di Asia, misalnya, kritik terhadap kepemimpinan Infantino tidak otomatis membuat seluruh anggota AFC berada dalam satu kubu. Qatar tetap memberikan dukungan, sedangkan Yordania mengambil posisi berbeda dengan menyatakan penolakan. Pola serupa terlihat di kawasan CONCACAF. Amerika Serikat dan Kanada berada dalam kelompok yang menentang Infantino, sementara Meksiko masih mendukung petahana. Oseania pun memperlihatkan dinamika yang tidak jauh berbeda. Kepulauan Solomon, Tahiti, dan Kaledonia Baru berada di pihak Infantino, sedangkan Selandia Baru telah menarik dukungannya. Perbedaan tersebut memperlihatkan betapa cairnya peta politik FIFA menjelang pemilihan. Aliansi konfederasi memang penting, tetapi setiap federasi tetap memegang satu suara. Pada akhirnya, pendekatan langsung kepada anggota dan kemampuan menawarkan visi yang meyakinkan dapat menjadi faktor penting dalam menentukan arah puluhan suara yang belum terkunci.
Angka Dukungan Masih Membuat Infantino Berada di Posisi Kuat
Meski tekanan meningkat, Infantino belum dapat dianggap berada dalam posisi terdesak sepenuhnya. Berdasarkan penghitungan yang dikutip dari Associated Press dalam materi sumber, 87 dari 211 federasi anggota telah menyatakan dukungan kepadanya, sedangkan 49 federasi berada di kubu penentang. Angka tersebut menyisakan banyak federasi yang belum mengumumkan pilihan. Jika pemilihan hanya menghadirkan dua kandidat, basis suara yang sudah dimiliki Infantino memberi fondasi penting untuk mengejar mayoritas suara sah. Selain itu, sejarah juga memberikan keuntungan psikologis bagi petahana karena presiden FIFA yang sedang menjabat memiliki jaringan hubungan luas dengan federasi anggota. Distribusi pendapatan dari kompetisi internasional serta program pembangunan sepak bola turut membuat hubungan antara pusat dan federasi nasional sangat strategis. Namun, suara yang belum menentukan sikap tetap menjadi medan pertarungan utama. Dengan waktu beberapa bulan sebelum pemungutan suara, perubahan dukungan masih sangat mungkin terjadi.
Pemilihan 2027 Menjadi Ujian Kepercayaan terhadap Arah FIFA
Kontestasi kali ini pada akhirnya dapat berkembang menjadi referendum terhadap cara FIFA dikelola di bawah kepemimpinan Infantino. Polemik investasi telah membawa isu transparansi, komersialisasi, dan tata kelola ke pusat perdebatan menjelang pemilihan. Di sisi lain, kubu penantang masih harus menjawab persoalan penting: siapa figur yang mampu menyatukan suara dari Eropa, Asia, Amerika Utara, dan federasi lain yang menginginkan perubahan. Kandidat Presiden FIFA harus memiliki keterlibatan aktif dalam sepak bola setidaknya dua dari lima tahun sebelum pencalonan serta mendapatkan dukungan minimal lima federasi anggota. Persyaratan itu memang tidak terlalu berat, tetapi membangun koalisi global jelas jauh lebih rumit. Bagi Infantino, tantangannya bukan sekadar mempertahankan angka dukungan. Ia juga perlu memulihkan kepercayaan federasi yang mulai ragu. Karena itulah, bulan-bulan menuju pemungutan suara di Maroko akan menjadi fase politik yang menentukan masa depan FIFA.
